Selasa, 13 September 2016

Kisah-Kisah Sedih dalam Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi


Saya membeli buku ini setelah membaca judulnya : Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi. Tentu saja saya tidak mengenal Azhari, penulis buku ini. Karena saat Azhari sedang produktif menulis cerpen yang dimuat di koran-koran nasional dalam rentang waktu 2001-2005, saat itu saya hanya membaca majalah Annida dan novel-novel teenlit semacam Fairish & Eiffel I'm In love.

Selanjutnya, baca tulisan ini di blog baruku : http://ranselperi.com/kisah-kisah-sedih-dalam-perempuan-pala-serumpun-kisah-lain-dari-negeri-bau-dan-bunyi/ 

Rabu, 03 Agustus 2016

Kita : Tanah Yang Membentang Antara Laut Utara Dan Laut Selatan

Topik tentang relationship saat ini memang masih tetap menarik untuk saya tulis. Karena ini untuk pertama kalinya saya menjalani sebuah hubungan yang dekat dengan seseorang selain ayah, ibu, dan adik perempuan saya. Hubungan dekat, baik secara fisik dan secara emosional yang membuat saya sempat terombang-ambing selama hampir 2 bulan dalam perasaan yang -entahlah ini apa- .
Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/kita-adalah-tanah-yang-membentang-antara-laut-utara-dan-laut-selatan/

Senin, 25 Juli 2016

Basa-Basi : Pertanyaan Tidak Ilmiah Yang Harus Kita Hadapi Setiap Hari.



Alhamdulillah. Lebaran telah usai. Dan saya telah melewati pertanyaan wajib tahun ini “Sudah hamil apa belum?”. Ya. Sebagai pasangan muda yang baru menikah pada akhir tahun 2015 lalu, sudah bisa diduga pertanyaan basa-basi ini akan muncul. Sama seperti ketika lebaran tahun lalu saya menghadapi pertanyaan “Kapan nikah ?”. Atau sama seperti lebaran dua tahun lalu ketika saya menghadapi pertanyaan “Kapan lulus S2?”. Pertanyaan itu akan terus muncul tanpa ada habisnya. Berkembang biak dengan membelah diri menjadi jutaan pertanyaan turunan yang tetap bernada basi : kapan hamil lagi, kapan punya rumah sendiri, kapan anak kita masuk sekolah, kapan anak kita menikah. Bla bla bla. Bla bla bla. Bla bla bla.

Jumat, 01 Juli 2016

Selamat Ulang Tahun, Ria !


Kami memiliki cara berkomunikasi yang agak aneh. Terbiasa menjalani hubungan jarak jauh selama bertahun-tahun membuat kami jarang berkomunikasi kecuali untuk hal-hal yang sangat penting. Jangan harap ada kata-kata "sudah makan atau belum", bahkan kami pernah tidak saling menyapa selama satu minggu. Karena lupa adalah alasan pertama. Tidak terbiasa adalah alasan berikutnya. Tidak punya pulsa adalah alasan klise yang ketiga.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku :  http://ranselperi.com/indah-pada-waktunya-benarkah-part-5/

Saat kau kecil, apa yang kau tunggu ketika libur sekolah tiba?



Kereta api dan deretan kios majalah bekas di dekat stasiun Blitar. Itu yang selalu kutunggu. Masa kecilku yang tinggal madura dan jauh dari keluarga besar ibu di Blitar, membuatku selalu menunggu masa libur sekolah. Perjalanan akan dimulai dengan berdesak-desakan dalam mobil angkutan umum dari desa Banyuates menuju pelabuhan Kamal. Satu mobil bisa diisi sekitar 20 orang. Perjalanan berganti dengan naik kapal ferry menyeberangi selat madura. Aku sangat suka melihat laut dari atas kapal.


Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/saat-kau-kecil-apa-yang-kau-tunggu-ketika-libur-sekolah-tiba/

Rabu, 22 Juni 2016

Memungut Kenangan-Kenangan Yang Terserak Dalam Hujan Dan Senja Tanah Rantau


Tampaknya Rara Zarary termasuk satu dari banyak perempuan yang mengamini bahwa hujan terdiri dari 1% air dan 99% kenangan. Hujan memang selalu bisa mengubah suasana menjadi melankolis sehingga kita turut terhanyut dalam air-air yang diturunkan-Nya dari langit. Dalam Buku Hujan dan Senja di Tanah Rantau, Rara menempatkan hujan sebagai air-air langit yang dipenuhi kenangan dan kerinduan akan rumah tempat pulang. Seperti dalam puisi-puisi ini :

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/memungut-kenangan-kenangan-yang-terserak-dalam-hujan-dan-senja-tanah-rantau/