 |
Buku Kumpulan Puisi Karya Ria AS "Ada Hujan Turun Pelan-Pelan"
(Mozaik Books, Februari 2013) |
Kholid Amrullah :
Membaca puisi karya Ria AS
ini seperti mengembara. Selalu ada hal baru dan indah yang dijumpai di
setiap jengkal katanya. Apalagi bait terakhirnya banyak yang tak
terduga. Sosok Ria AS terlihat lebih perkasa dalam puisipuisi ini.
Jiwa feminimnya lebur dalam kata-kata yang kuat dan berkarakter tanpa
meninggalkan pesan kelembutan sebagai seorang perempuan.
Royyan Julian :
Membaca
sajak-sajak Ria AS seperti membaca sebuah buku harian dengan
kata-kata yang tertata. “Ada Hujan Turun Pelan-Pelan” berceloteh
tentang hal-hal yang remeh hingga yang hakiki, berbicara tentang hujan
hingga tuhan. Di dalamnya ada cinta platonik berbaur dengan libido.
Ada yang imanen sekaligus yang transenden. Itulah mengapa kumpulan
puisi ini, menurut saya sangat sufistik; tidak terjebak pada
relijiusitas yang dangkal; tetapi tidak pula terperangkap pada
asketisme yang primitif.
Husen Arifin :
Membaca
puisi-puisi Ria AS, saya telah diajaknya untuk menikmati lebih dekat
ihwal hidup sederhana, dengan halhal yang lazimnya perempuan inginkan.
Dan yang lebih menarik perhatian saya pada puisi bertema hujan.
Entahlah. Ria AS sangat piawai pada suasana yang melankolis dan
menjadikannya sempurna dalam kumpulan puisi ini.
Ragil Sukriwul :
Sebagai
penyair, salah satu kerja utamanya adalah menyelam ke kedalaman
pengalaman personal, interpersonal dan kolektif untuk kemudian kembali
ke permukaan dengan kerang-lokan-kembang karang-kata-kata; ikan-ikan
bahasa yang sekiranya dapat menuntun pembaca pada palung-palung hidup
yang gelap tak terpermanai, yang kemudian coba untuk dikenali dan
dimaknai kembali satu-satu—tentu, juga oleh penyairnya sendiri. Ria,
lewat puisi puisinya yang membentang dalam buku di genggaman anda ini,
dalam hemat saya, telah berada dalam jalur ekspedisi ini. Semoga buku
ini menjadi dermaga keberangkatan bagi penyelaman-penyelaman
selanjutnya yang lebih berani ke lekat pusar samudera kehidupan. Ahoei…
selamat berlayar!
Stebby
Julionatan :
Di luar enjambemen, rima dan tipografi, puisi-puisi Ria AS
dalam Ada Hujan Turun Pelan-Pelan mengalir dengan diksi sederhana yang
syarat dengan analogi kuat dan menggugah di akhir. Seperti pada
“Antara Dahi dan Makan Gulali” yang saya suka; ia seperti hujan, meski
nyaris turun perlahan, namun (di akhir) alirannya mampu menghanyutkan
siapa saja, termasuk saya, pembacanya.