Senin, 24 Oktober 2016

Lelaki Tua dan Keberuntungan-Keberuntungan yang Sukar Dipercaya

 


Terkadang tidak memilih menjadi pilihan terbaik. Inilah kalimat yang bisa menyimpulkan keseluruhan isi buku "The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of The Window And Disappeared". Diterjemahkan dan diterbitkan oleh Bentang, awalnya saya hanya sanggup menyelesaikan seperempat bagian awal buku ini lalu meletakkan buku ini di antara buku-buku yang lainnya. Tapi judul yang cukup panjang ini membuat saya penasaran dan akhirnya memutuskan membaca buku ini sampai akhir.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/lelaki-tua-dan-keberuntungan-keberuntungan-yang-sukar-dipercaya/

Selasa, 13 September 2016

Tombo Coffee, seduhan biji kopi dari Pantura Jawa


Tak banyak yang mengenal Batang kecuali bagi mereka yang terbiasa melalui jalur pantura. Jika saya berkata suami saya tinggal di Batang, kebanyakan orang-orang akan mengira saya menyebutkan kata Batam. Atau jika saya berkata Batang Jawa Tengah. Mereka akan berpikir sebentar sambil menduga-duga dimana lokasinya. Kebanyakan mereka baru paham setelah saya menjelaskan jika Batang bersebelahan dengan Kota Pekalongan yang terkenal karena batiknya.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/tombo-coffee-seduhan-biji-kopi-dari-pantura-jawa/

Catatan :
Tulisan ini juga dimuat di web KataWanita.net :  katawanita 
http://katawanita.net/cerita/tombo-coffee-seduhan-biji-kopi-pantura-jawa

Kisah-Kisah Sedih dalam Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi


Saya membeli buku ini setelah membaca judulnya : Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi. Tentu saja saya tidak mengenal Azhari, penulis buku ini. Karena saat Azhari sedang produktif menulis cerpen yang dimuat di koran-koran nasional dalam rentang waktu 2001-2005, saat itu saya hanya membaca majalah Annida dan novel-novel teenlit semacam Fairish & Eiffel I'm In love.

Selanjutnya, baca tulisan ini di blog baruku : http://ranselperi.com/kisah-kisah-sedih-dalam-perempuan-pala-serumpun-kisah-lain-dari-negeri-bau-dan-bunyi/ 

Rabu, 03 Agustus 2016

Kita : Tanah Yang Membentang Antara Laut Utara Dan Laut Selatan

Topik tentang relationship saat ini memang masih tetap menarik untuk saya tulis. Karena ini untuk pertama kalinya saya menjalani sebuah hubungan yang dekat dengan seseorang selain ayah, ibu, dan adik perempuan saya. Hubungan dekat, baik secara fisik dan secara emosional yang membuat saya sempat terombang-ambing selama hampir 2 bulan dalam perasaan yang -entahlah ini apa- .
Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/kita-adalah-tanah-yang-membentang-antara-laut-utara-dan-laut-selatan/

Senin, 25 Juli 2016

Basa-Basi : Pertanyaan Tidak Ilmiah Yang Harus Kita Hadapi Setiap Hari.



Alhamdulillah. Lebaran telah usai. Dan saya telah melewati pertanyaan wajib tahun ini “Sudah hamil apa belum?”. Ya. Sebagai pasangan muda yang baru menikah pada akhir tahun 2015 lalu, sudah bisa diduga pertanyaan basa-basi ini akan muncul. Sama seperti ketika lebaran tahun lalu saya menghadapi pertanyaan “Kapan nikah ?”. Atau sama seperti lebaran dua tahun lalu ketika saya menghadapi pertanyaan “Kapan lulus S2?”. Pertanyaan itu akan terus muncul tanpa ada habisnya. Berkembang biak dengan membelah diri menjadi jutaan pertanyaan turunan yang tetap bernada basi : kapan hamil lagi, kapan punya rumah sendiri, kapan anak kita masuk sekolah, kapan anak kita menikah. Bla bla bla. Bla bla bla. Bla bla bla.

Jumat, 01 Juli 2016

Selamat Ulang Tahun, Ria !


Kami memiliki cara berkomunikasi yang agak aneh. Terbiasa menjalani hubungan jarak jauh selama bertahun-tahun membuat kami jarang berkomunikasi kecuali untuk hal-hal yang sangat penting. Jangan harap ada kata-kata "sudah makan atau belum", bahkan kami pernah tidak saling menyapa selama satu minggu. Karena lupa adalah alasan pertama. Tidak terbiasa adalah alasan berikutnya. Tidak punya pulsa adalah alasan klise yang ketiga.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku :  http://ranselperi.com/indah-pada-waktunya-benarkah-part-5/

Saat kau kecil, apa yang kau tunggu ketika libur sekolah tiba?



Kereta api dan deretan kios majalah bekas di dekat stasiun Blitar. Itu yang selalu kutunggu. Masa kecilku yang tinggal madura dan jauh dari keluarga besar ibu di Blitar, membuatku selalu menunggu masa libur sekolah. Perjalanan akan dimulai dengan berdesak-desakan dalam mobil angkutan umum dari desa Banyuates menuju pelabuhan Kamal. Satu mobil bisa diisi sekitar 20 orang. Perjalanan berganti dengan naik kapal ferry menyeberangi selat madura. Aku sangat suka melihat laut dari atas kapal.


Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/saat-kau-kecil-apa-yang-kau-tunggu-ketika-libur-sekolah-tiba/