Senin, 21 Maret 2016

# NgajiLiterasi (Ngalit) 1



Bincang buku kumpulan cerpen
"Aku Mengenalnya dalam Diam" karya Ria AS
(Dream Litera, Malang: 2015)
Pengulas:
Misbahus Surur
M Rosyid Husnul Waro'i
Moderator: Nurvianti Siti
Waktu: Rabu, 17 Februari 2016
Pukul: 14.00 - 16.30
Tempat: Perpustakaan pusat UIN Maliki Malang (Lt. 1)
Kerjasama pegiat sastra dan buku UIN Malang, Gusdurian Malang dengan perpustakaan UIN Malang.
Narahubung : 081333319044 (Ria AS)


Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/bincang-buku-aku-mengenalnya-dalam-diam-karya-ria-as/

Selasa, 02 Februari 2016

Surat Dari Praha

: tentang sebuah surat yang menjadi sengketa

Kali ini saya akan mencoba membahas satu judul buku dan satu judul film yang sama : Surat Dari Praha. Kebetulan saya sudah membaca versi bukunya pada sekitar tahun 2012-2013 dan menonton versi filmnya di hari kamis (28 Januari 2016) kemarin.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/surat-dari-praha/

Rabu, 27 Januari 2016

Indah pada waktunya, benarkah?

: catatan bagian pertama

Aduh. Awalnya saya cuma ingin mengundang teman-teman dekat saya lewat inbox di facebook. Tapi karena Nur Fitriana telah membuat status panjang yang membuat saya terharu sekaligus tercemar di dunia maya (istilah apa ini?), maka saya akan mengkonfirmasi sekaligus memohon doa restu karena sampai H-17 ini undangannya belum tercetak. Saya dan Miqdam berencana menikah pada tanggal 26 Desember 2015. Monggo kalau berkenan rawuh. Saya akan senang sekali. Berbahagia dikelilingi orang-orang yang saya kenal di hari itu. Tapi mohon konfirmasi terlebih dahulu karena saya khawatir anda kehabisan makanan. Hehehehe.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/indah-pada-waktunya-benarkah-part-1/

Rabu, 04 November 2015

Ubud, sekali lagi. Selagi Kembali.


: Catatan hari pertama

Ibaratnya seperti ini. Separuh hati saya tertanam pada lapisan tanah di kota malang. Seperempat sisanya tertinggal di jogja. Seperempat terakhir tersesat di ubud. Maka meskipun di awal tahun saya sudah pergi ke ubud, kali ini saya nekat datang lagi ke ubud untuk ikut UWRF 2015. Apalagi setelah saya mendapat kepastian menumpang fasilitas penginapan gratis untuk Ratih yang diundang setelah lolos seleksi emerging writers.


Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku :

Part 1 : http://ranselperi.com/ubud-sekali-lagi-selagi-kembali-part-1/
Part 2 : http://ranselperi.com/ubud-sekali-lagi-selagi-kembali-part-2/
Part 3 : http://ranselperi.com/ubud-sekali-lagi-selagi-kembali-part-3/
Part 4 : http://ranselperi.com/ubud-sekali-lagi-selagi-kembali-part-4/

Selasa, 06 Oktober 2015

Writing A Short Story




On 22th May 2015, I joined a workshop for the short stories writing which was held by Kompas Newspaper at Bentara Budaya Bali Denpasar. This event was held for celebrate the 50th Kompas Newspaper in 5 Cities such as Jakarta, Bandung, Denpasar, Makassar and Padang Panjang. This event attended by authors from East Java, Bali, NTB, and NTT. The committee said as many as 104 authors submitting short stories to be selected by the organizing committee and finally selected 40 authors. I never expected to be among the great ones.


Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/writing-a-short-story/

Senin, 14 September 2015

Menikmati Jogja Dari Dalam Jendela


Entah ini perjalanan keberapa. Tapi saya memang selalu suka naik kereta. Berawal dari tiket promo menyambut ultah PT KAI, akhirnya saya bergabung dengan 2 teman dari KBMR untuk pergi ke jogja. Kami berpisah di depan stasiun tugu. Mereka berdua pergi ke pantai sementara saya memilih nyantai di sekitaran jogja saja.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/menikmati-jogja-dari-dalam-jendela/ 

Kamis, 03 September 2015

Akhirnya, Hari Itu Datang Juga.





Ujug-ujug perempuan ini datang ke kantorku. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak membuat semacam pertemuan terakhir dengannya. Hari ini dia akan pindah ke Jakarta. Sambil matanya berkaca-kaca, dia minta dipeluk dan difoto. Dia berkata dia sedih pindah dari kota ini. Aku berkata aku selalu membenci perpisahan. 
Aku kira aku tidak akan menangis. Karena menangis hanya dilakukan oleh orang melankolis seperti Tsabit Pramita atau orang dramatis seperti ELsy ARifa WuLandini. Sementara orang minim ekspresi dan apresiasi sepertiku dan Happy Yugo Prasetiya akan selalu berkata mereka berdua lebai jika mereka sudah memulai adegan drama. 
Satu-persatu nona-nona sahabat berubah menjadi nyonya. Menikah. Pindah. Lalu memiliki kehidupan baru hingga semua menjadi tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tapi memang pada akhirnya kita harus menulis cerita kita dengan cara kita masing-masing. 
Kenapa ada banyak perpisahan di bulan september ?