Selasa, 06 Oktober 2015

Writing A Short Story




On 22th May 2015, I joined a workshop for the short stories writing which was held by Kompas Newspaper at Bentara Budaya Bali Denpasar. This event was held for celebrate the 50th Kompas Newspaper in 5 Cities such as Jakarta, Bandung, Denpasar, Makassar and Padang Panjang. This event attended by authors from East Java, Bali, NTB, and NTT. The committee said as many as 104 authors submitting short stories to be selected by the organizing committee and finally selected 40 authors. I never expected to be among the great ones.


Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/writing-a-short-story/

Senin, 14 September 2015

Menikmati Jogja Dari Dalam Jendela


Entah ini perjalanan keberapa. Tapi saya memang selalu suka naik kereta. Berawal dari tiket promo menyambut ultah PT KAI, akhirnya saya bergabung dengan 2 teman dari KBMR untuk pergi ke jogja. Kami berpisah di depan stasiun tugu. Mereka berdua pergi ke pantai sementara saya memilih nyantai di sekitaran jogja saja.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/menikmati-jogja-dari-dalam-jendela/ 

Kamis, 03 September 2015

Akhirnya, Hari Itu Datang Juga.





Ujug-ujug perempuan ini datang ke kantorku. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak membuat semacam pertemuan terakhir dengannya. Hari ini dia akan pindah ke Jakarta. Sambil matanya berkaca-kaca, dia minta dipeluk dan difoto. Dia berkata dia sedih pindah dari kota ini. Aku berkata aku selalu membenci perpisahan. 
Aku kira aku tidak akan menangis. Karena menangis hanya dilakukan oleh orang melankolis seperti Tsabit Pramita atau orang dramatis seperti ELsy ARifa WuLandini. Sementara orang minim ekspresi dan apresiasi sepertiku dan Happy Yugo Prasetiya akan selalu berkata mereka berdua lebai jika mereka sudah memulai adegan drama. 
Satu-persatu nona-nona sahabat berubah menjadi nyonya. Menikah. Pindah. Lalu memiliki kehidupan baru hingga semua menjadi tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tapi memang pada akhirnya kita harus menulis cerita kita dengan cara kita masing-masing. 
Kenapa ada banyak perpisahan di bulan september ?

Rabu, 26 Agustus 2015

Semeru dan Anak Kasur Yang Nekat Ke Gunung (Bagian 2)

Ranu Kumbolo. Saya jatuh cinta pada danau ini sejak pertama melihatnya pada tahun 2009. Saking kangennya, tahun 2013 saya ikut salah satu trip dengan tujuan hanya untuk ke danau ini. Tahun ini, dalam pendakian yang tak ada dalam rencana tahunan saya, saya bisa mengobati kangen itu. Bangun tidur dan melihat ranu kumbolo di depan mata. Sungguh, rasanya tidak ingin pulang.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/semeru-dan-anak-kasur-yang-nekat-ke-gunung-bagian-2/

Jumat, 21 Agustus 2015

Semeru Dan Anak Kasur Yang Nekat Ke Gunung (Bagian 1)

Perjalanan kali ini seperti sebuah hadiah. Tiba-tiba saja datang tanpa direncanakan. Berawal dari keinginan wakil rektor UIN Malang yang membaca majalah tentang liputan semeru ketika berada di pesawat dan berinisiatif mengadakan kegiatan Pendakian Semeru pada Hari Kemerdekaan RI.



Selasa, 04 Agustus 2015

Sang Liyan di tubuh Si Alien

foto diambil dari http://www.ibtimes.co.in/pk-movie-review-by-viewers-live-update-617664

Unik dan menggelitik. Itulah kesan saya setelah menonton film ini. Meskipun saya terbilang telat untuk menontonnya, film ini telah membuat saya mempunyai cara pandang baru terhadap film india. Iya. Saya adalah salah satu fans fanatik film india sejak saya berusia 13 tahun. Film-film india masa itu selalu saya tonton. Tidak lupa saya juga membeli VCD bajakan yang berisi lagu-lagu india dan menghafalkan lirik lagunya disela-sela hafalan juz amma di pesantren dulu. Bahkan saya mempunyai geng pecinta india yang menampilkan pertunjukan tari dari salah satu lagu dalam film "Khabhi Kussi Khabhi Ghum" pada hari perpisahan kelulusan kelas 3.

Selanjutnya, bisa dibaca di blog baruku :  http://ranselperi.com/sang-liyan-di-tubuh-si-alien/

NU dan Kegembiran Muktamar di Jombang

Meskipun muktamar NU dilaksanakan di kota kecil tempat saya tinggal, saya tidak memiliki antusiasme untuk mengikuti perkembangannya. Karena bagi saya, dulu, NU tidak lebih hanya sekumpulan ibu-ibu berbaju hijau yang rajin pergi ke pengajian dan sikap tawadhu' pada kyainya sering dimanfaatkan oleh politisi ketika pemilu tiba. Sementara saya adalah anggota 'islam hore-hore' yang lebih senang nonton film, baca buku, dan jalan-jalan di akhir pekan daripada mengikuti pengajian.

Selanjutnya bisa dibaca di blog baruku : http://ranselperi.com/nu-dan-kegembiran-muktamar-di-jombang/